Jum’at, 20 April 2012, Wakil Menteri Perda­gan­gan Bayu Kris­na­murthi men­canangkan Hari Kon­sumen Nasional, yang dia­jukan oleh Badan Per­lin­dun­gan Kon­sumen Nasional (BPKN). Pene­ta­pan tang­gal 20 April seba­gai Hari Kon­sumen Nasional untuk mem­peringati tang­gal diun­dan­gkan­nya UU No. 8 ten­tang Per­lin­dun­gan Konsumen.

Saya men­er­awang jauh ke masa lalu, ham­pir sepu­luh tahun yang lalu. Tepat­nya, pada tang­gal 4 Sep­tem­ber 2003, Pres­i­den RI (saat itu) Megawati Sukarnop­u­tri men­canangkan tang­gal 4 Sep­tem­ber seba­gai Hari Pelang­gan Nasional. Sejak itu, setiap tahun banyak perusa­haan mem­peringati tang­gal 4 Sep­tem­ber seba­gai hari untuk meman­jakan pelang­gan­nya. Mungkin Anda ingat pada tang­gal itu, ketika Anda mema­suki bank tem­pat biasa Anda bertransaksi Anda akan dis­am­but oleh karyawan bank yang berpaka­ian berbeda dan melayanai Anda secara berbeda di band­ing hari-hari lain­nya? Atau, Anda men­da­pat broad­cast mes­sage dari provider tele­pon seluler Anda yang mem­ber­i­tahukan bahwa pada hari itu Anda men­da­pat gratis bicara untuk waktu ter­tentu? Atau direk­tur sebuah perusa­haan asur­ansi mobil ikut turun ke lapan­gan men­dorong mobil yang mogok? Atau direk­tur utama sebuah perusa­haan pener­ban­gan nasional milik negara turun mem­beri con­toh menyapu dan mem­ber­sihkan toi­let di Ban­dara Soekarno-Hatta? Semua akti­fi­tas yang diran­cang oleh banyak perusa­haan pada hari itu adalah untuk mengek­spre­sikan ungka­pan ter­ima kasih kepada Anda seba­gai pelang­gan­nya dan komit­men perusa­haan untuk lebih baik lagi dalam melayani pelang­gan­nya di masa mendatang.

Lalu, apakah bedanya Hari Kon­sumen Nasional dan Hari Pelang­gan Nasional? Perbe­daan yang jelas ter­li­hat adalah pada kata “kon­sumen” dan “pelang­gan”. Dari kamus umum bahasa Indone­sia karangan JS Badudu dan Sutan Muham­mad Zain, kon­sumen adalah “pemakai barang-barang hasil indus­tri bahan makanan, dan seba­gainya”. Sedan­gkan kata pelang­gan adalah “orang yang mem­beli secara tetap di suatu tem­pat (toko, pen­jual, tukang, dan seba­gainya)”. Dari per­spek­tif pemasaran, perbe­daan atas ked­u­anya san­gat­lah besar mak­nanya. Dalam kon­teks pelang­gan ada suatu hubun­gan (relasi) antara kon­sumen den­gan produk/jasa ter­tentu. Hubun­gan yang sudah ter­jalin itu perlu diper­ta­hankan dan terus dit­ingkatkan. Itu­lah sebab­nya perusa­haan berusaha men­dorong seo­rang kon­sumen men­jadi pelang­gan, dan dari pelang­gan biasa men­jadi pelang­gan yang loyal melalui kual­i­tas pro­duk dan kual­i­tas jasa layanan. Jika setiap perusa­haan melakukan hal yang sama maka secara agre­gat akan meningkatkan daya saing produk/jasa industri-industri di Indone­sia. Setiap pelang­gan ada nilainya bagi perusa­haan, karena mem­berikan profit kepada perusa­haan. Jadi, semakin lama pelang­gan bersama perusa­haan, artinya men­jadi pelang­gan yang loyal, maka semakin tinggi nilainya bagi perusa­haan. Oleh sebab itu maka ada isti­lah Cus­tomer Life­time Value (CLV), yang menghi­tung berapa nilai seo­rang pelang­gan sep­a­n­jang hidup­nya bersama produk/jasa perusahaan.

Saya tidak tahu apakah perbe­daan defin­isi kon­sumen dan pelang­gan ini yang men­jadi gagasan bagi pene­ta­pan Hari Kon­sumen Nasional, yang dicanangkan pada 20 April 2012 yang lalu. Apapun itu, yang jelas dan lebih pent­ing adalah bahwa yang diun­tungkan adalah kon­sumen dan pelang­gan. Khusus­nya Anda, yang meru­pakan pelang­gan dari suatu produk/jasa perusa­haan ter­tentu, boleh berharap men­da­pat sesu­atu dari perusa­haan terse­but yang meman­jakan Anda pada tang­gal 4 Sep­tem­ber mendatang.