Oleh: Suhartono Chandra

Hasil Quick­count Pilkada DKI Jakarta, 11 Juli 2012 (Sum­ber: Kom­pas, 12 Juli 2012)

Rabu, 11 Juli 2012, seba­gian besar warga Jakarta melak­sanakan hak poli­tiknya untuk memilih satu dari enam pasan­gan calon gubernur/wakil guber­nur untuk memimpin DKI Jakarta. Empat pasang calon didukung oleh par­tai poli­tik, sedan­gkan dua calon lain­nya meru­pakan calon inde­pen­den. Seperti biasa dalam setiap pemil­i­han umum, berba­gai lem­baga survei melakukan quick­count (hitung cepat) atas hasil pemu­ng­utan suara. Hasil hitung cepat dari beber­apa lem­baga survei diber­i­takan di berba­gai media pada keesokan harinya. Hasil­nya, pasan­gan Joko Widodo-Basuki Tja­haja, yang biasa dise­but Jokowi-Ahok men­da­p­atkan suara ter­banyak dan men­galahkan pasan­gan incum­bent (peta­hana) Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara). Dari tabel terse­but, rentang per­ole­han suara hasil hitung cepat beber­apa lem­baga survei pasan­gan Jokowi-Ahok ada pada kisaran 42,24%-43,04%, sedan­gkan Foke-Nara 33,57%-34,58%. Walaupun hasil per­hi­tun­gan secara man­ual baru akan dis­e­le­saikan oleh KPU DKI Jakarta sek­i­tar tang­gal 19–20 Juli 2012 men­datang, namun den­gan mem­baca hasil hitung cepat terse­but dapat dipastikan akan ada putaran kedua yang diikuti oleh pasan­gan peta­hana Foke-Nara dan Jokowi-Ahok. Apa dasar keyak­i­nan atas hasil hitung cepat terse­but? Apa yang harus dilakukan tim suk­ses pasan­gan Jokowi-Ahok agar dapat mem­per­ta­hankan keung­gu­lan­nya pada putaran kedua yang diren­canakan dis­e­leng­garakan pada 20 Sep­tem­ber 2012?

Mem­baca Hasil Hitung Cepat

Ada beber­apa hal yang perlu kita pahami dari kegiatan hitung cepat, terutama bagi Anda yang tidak ter­biasa den­gan kegiatan mem­pela­jari hasil survei. Untuk mengam­bil kes­im­pu­lan dari hasil hitung cepat, seti­daknya ada dua para­me­ter yang sal­ing berhubun­gan terkait den­gan pelak­sanaan suatu survei. Per­tama, yaitu isti­lah selang keper­cayaan atau tingkat keper­cayaan (con­fi­dence inter­val). Kedua, adalah isti­lah mar­gin of error.

Selang kepercayaan/tingkat keper­cayaan (con­fi­dence inter­val). Dalam setiap survei selalu ada isti­lah tingkat keper­cayaan. Tingkat keper­cayaan menun­jukkan seber­apa yakin periset atas hasil survei yang dilakukan. Tingkat keper­cayaan dip­ilih secara bebas oleh periset sesuai den­gan kebu­tuhan akurasi hasil survei atau kesala­han yang dapat dito­lerir. Tingkat keper­cayaan diny­atakan dalam pros­en­tasi, yaitu antara 0%-100%. Semakin tinggi akurasi hasil survei yang dibu­tuhkan maka semakin tinggi pula tingkat keper­cayaan yang harus dite­tap­kan. Untuk survei kepentin­gan pemasaran umum­nya tingkat keper­cayaan yang digu­nakan adalah 95%. Den­gan tingkat keper­cayaan 95%, artinya tol­er­ansi pada akurasi hasil survei adalah ±5%, atau den­gan kata lain mar­gin of error sebe­sar  ±5%. Jika hasil survei adalah X%, maka rentang hasil yang “sesung­guh­nya” berada pada nilai (X-5%) hingga (X+5%). Untuk kon­trol kual­i­tas pro­duksi obat tingkat keper­cayaan harus di atas 99%, karena kesala­han yang ter­jadi walaupun 1 dari 1000 keja­dian akan berak­i­bat fatal jika yang dimak­sud adalah obat yang sen­si­tif. Demikian juga hitung cepat hasil pemil­i­han umum menun­tut tingkat akurasi yang tinggi. Lit­bang Kom­pas (dan mungkin juga lem­baga survei lain­nya) menen­tukan tingkat keper­cayaan 99%, artinya mar­gin error yang dimungkinkan ter­jadi adalah 1%. Salah satu imp­likasi dari pene­ta­pan mar­gin of error adalah pada jum­lah sam­pel TPS yang diam­bil. Lit­bang Kom­pas mengam­bil jum­lah sam­pel sebanyak 400 TPS.

Hasil Hitung Cepat Kom­pas Pilkada DKI Jakarta, 11 Juli 2012 (Sum­ber: Kom­pas, 12 Juli 2012)

Mar­gin of error. Mar­gin of error adalah tingkat kesala­han yang masih dapat dito­lerir. Dalam Hitung Cepat Kom­pas mar­gin of error sebe­sar ±1%. Artinya, angka-angka hasil per­hi­tun­gan berada pada kisaran (X% — 1%) hingga (X% + 1%). Den­gan meli­hat tabel data Hitung Cepat Kom­pas, maka per­ole­han suara Foke-Nara adalah pada rentang 33,32% s/d 35,32% dan Jokowi-Basuki 41,59% s/d 43,59%. Nilai Bawah Jokowi-Basuki 41,59% melam­paui Nilai Atas Foke-Nara yang hanya 35,32%. Den­gan kata lain kecil kemu­ngk­i­nan hasil per­hi­tun­gan man­ual yang dilakukan oleh KPU DKI Jakarta akan mem­ba­likkan hasil hitung cepat. Tetapi, coba lihat seandainya tingkat keper­cayaan yang diam­bil adalah 95% (mar­gin of error ±5%). Dan mis­alkan saja hasil hitung cepat­nya adalah sama, maka rentang hasil per­ole­han suara Foke-Nara pada kisaran 29,32% — 39,32% dan Jokowi-Basuki pada kisaran 37,59% — 47,59%. Ada kemu­ngk­i­nan hasil hitun­gan secara man­ual mem­ba­likkan keadaan ketika terny­ata suara Foke-Nara ada pada batas atas sedan­gkan suara Jokowi-Basuki jatuh di batas bawah. Itu­lah con­toh pent­ingnya tingkat keper­cayaan yang tinggi dalam melakukan proses hitung cepat.

Jadi berdasarkan hasil hitung cepat dari 5 lem­baga survei (Kom­pas, Kamis, 12 Juli 2012), maka saya dapat menarik dua kes­im­pu­lan. Per­tama, Pilkada DKI Jakarta 2012 akan berlang­sung dua putaran, karena tidak ada sat­upun calon yang akan men­ca­pai jum­lah suara 50%. Kedua, pemu­ng­utan suara pada tang­gal 11 Juli yang lalu dime­nangkan oleh pasan­gan Jokowi-Basuki, dan pasan­gan Foke-Nara men­duduki posisi kedua. Artinya pada tang­gal 20 Sep­tem­ber 2012 nanti, yang akan maju bertarung mere­but suara hati pen­duduk DKI Jakarta adalah mereka berdua.

Langkah Selan­jut­nya?

Pemu­ng­utan suara putaran kedua akan berlang­sung lebih ketat, karena hanya dua pasang calon yang akan maju. Per­tarun­gan kedua pasan­gan terse­but dapat diibaratkan Daud melawan Goliath. Pasan­gan Foke-Nara memi­liki banyak keun­tun­gan diband­ing Jokowi-Ahok. Selain ung­gul dalam pen­danaan dan sudah san­gat lama berada dalam lingkun­gan pemer­in­ta­han DKI Jakarta (Foke adalah Sekre­taris Daerah dan Wakil Guber­nur sebelum men­ja­bat seba­gai Guber­nur). Foke-Nara juga diun­tungkan sen­ti­men kedaer­a­han karena mereka berdua adalah asli putra Betawi (sekalipun pada putaran per­tama seper­tinya sen­ti­men kedaer­a­han tidak berpen­garuh kuat dalam meng­gir­ing suara). Hasil per­ole­han suara pasan­gan Jokowi-Ahok pada putaran per­tama mem­beri sinyal bahwa pen­duduk Jakarta menginginkan sesu­atu yang baru, Jakarta Baru yang ditawarkan pasan­gan Jokowi-Ahok. Integri­tas pasan­gan Jokowi-Ahok meru­pakan mag­net bagi pen­dukungnya maupun suara mengam­bang (yang saat survei sebelum pelak­sanaan pemu­ng­utan suara 11 Juli yang lalu belum menen­tukan pil­i­han, yang diperki­rakan men­ca­pai 26%) men­cob­los pasan­gan den­gan nomor urut 3 itu. Banyak kalan­gan meni­lai Jokowi (saat ini masih seba­gai Walikota Solo untuk kali kedua) suk­ses memimpin kota Solo. Warga kota Solo san­gat meng­hor­mati dan menc­in­tai Jokowi. Dalam berba­gai kesem­patan saya menden­gar secara lang­sung dari tukang becak, sopir taxi, peda­gang, warga, dan pen­gusaha mem­beri peni­la­ian posi­tif ter­hadap Jokowi. Hal itu ditun­jukkan pada per­ole­han suara pada pemil­i­han kedua kali (2010) Jokowi meraih dukun­gan suara di atas 90%. Prestasinya juga dihar­gai di tingkat inter­na­sional. Demikian juga pasan­gan­nya, yaitu Ahok man­tan Bupati Beli­tung Timur memi­liki catatan prestasi serta integri­tas yang baik. Tetapi, hal yang perlu dicatat adalah bahwa pada putaran per­tama ada 6 pasan­gan calon. Sedan­gkan pada putaran kedua nanti hanya ada 2 calon. Perebu­tan suara milik keem­pat pasan­gan calon yang gugur meru­pakan tan­ta­n­gan yang tidak kecil bagi tim suk­ses Jokowi-Ahok.

Dalam per­spek­tif pemasaran, jum­lah pemilih yang memi­liki hak suara (menu­rut Daf­tar Pemilih Tetap men­ca­pai 6.962.348 orang) dapat dianalogikan seba­gai pelang­gan. Dalam pemasaran hanya ada 2 strategi bagi per­tum­buhan jum­lah pelang­gan, yaitu strategi reten­tion dan akui­sisi. Reten­tion adalah strategi yang ditu­jukan untuk mem­per­ta­hankan pelang­gan saat ini. Bagi pasan­gan Jokowi-Ahok, mereka adalah yang pada tang­gal 11 Juli 2012 yang lalu telah mem­berikan suaranya kepada pasan­gan Jokowi-Ahok. Untuk memetakan pemilih mereka tidak sulit karena hasil per­hi­tun­gan di setiap TPS dapat dipela­jari. Kon­sis­tensi integri­tas dan posi­tion­ing yang sejak awal dip­ilih oleh pasan­gan Jokowi-Ahok harus dijaga den­gan baik. Strategi akui­sisi adalah strategi yang ditu­jukan untuk meraih pelang­gan baru, yaitu mereka yang pada putaran per­tama tidak mem­berikan suaranya kepada Jokowi-Ahok. Kedua strategi itu perlu dijalankan secara bersama-sama antara par­tai pen­gusung dan tim suk­ses Jokowi-Ahok.

Ada beber­apa temuan ketika saya menga­mati hasil survei paskapemil­i­han (exit pool) yang dilakukan Lit­bang Kom­pas (Kom­pas, Jumat, 13 Juli 2012). Per­tama, mesin poli­tik par­tai pen­gusung Jokowi-Ahok, yaitu PDI-P dan Gerindra, sudah bek­erja den­gan cukup baik. Hasil exit pool itu menun­jukkan bahwa 60% dari mereka yang pada Pemilu 2009 memilih par­tai Gerindra dan 41,2% dari mereka yang dulu memilih par­tai PDI-P juga memilih Jokowi-Ahok. Dalam hal ini par­tai pen­gusung dapat melakukan kon­sol­i­dasi inter­nal untuk lebih men­gop­ti­malkan mesin poli­tiknya. Selain itu, lobby-lobby untuk menyusun koal­isi den­gan partai-partai pen­gusung pasan­gan calon yang gugur pada putaran per­tama perlu dija­jaki. Terkait den­gan dukun­gan sim­pati­san par­tai pen­gusung, hal iro­nis ter­jadi pada pasan­gan calon Alex Noerdin-Nono Sam­pono, dimana seba­gian besar sim­pati­san par­tai Golkar dan PPP (yang notabene adalah par­tai yang men­gusung pasan­gan itu) jus­tru mem­berikan suaranya kepada pasan­gan Foke-Nara. Kedua, survei juga menun­jukkan bahwa keme­nan­gan Jokowi-Ahok banyak ditopang oleh kelas menen­gah. Sedan­gkan Foke-Nara lebih banyak didukung oleh kelas bawah. Sehingga, strategi yang tepat diper­lukan oleh tim suk­ses Jokowi-Ahok untuk merangkul warga kelas bawah, antara lain den­gan lebih ser­ing melakukan kegiatan turun ke akar rumput. Keber­hasi­lan Jokowi memanu­si­akan manu­sia warga kota Solo dapat men­jadi tema komu­nikasi. Ketiga, jum­lah pen­dukung kedua pasang calon inde­pen­den yang ham­pir men­ca­pai 500 ribu (6,95%) meru­pakan tar­get yang memi­liki kesamaan pan­dan­gan den­gan pen­dukung Jokowi-Ahok dan jum­lah warga Jakarta yang tidak meng­gu­nakan hak pil­i­h­nya juga besar, sek­i­tar 2.4 juta suara (34,6%). Modal kesuk­sesan di putaran per­tama meme­nangkan hati massa mengam­bang dapat dijadikan model untuk meme­nangkan mereka yang tidak meng­gu­nakan hak suaranya pada putaran per­tama dan pen­dukung kedua pasang calon inde­pen­den. Situ­asi Daud ver­sus Goliath dapat dijadikan tema komunikasi.

Den­gan strategi yang tepat, bukan mus­tahil Daud men­galahkan Goliath. Hasil putaran per­tama mem­beri indikasi bahwa sesung­guh­nya warga Jakarta sudah jenuh dan mem­bu­tuhkan peruba­han untuk menikmati Jakarta Baru.