Oleh: Suhartono Chandra

Jum­lah kartu kredit dari hari ke hari terus bertum­buh. Data Bank Indone­sia menun­jukkan pada Desem­ber 2011, jum­lah­nya men­ca­pai 14.785.382. Semen­tara pada Desem­ber 2007 baru men­ca­pai 9.148.104 kartu. Artinya selama peri­ode Desem­ber 2007-Desember 2011, penam­ba­han netto jum­lah kartu kredit yang beredar adalah 5.637.278 kartu, atau 117.443 kartu per bulan­nya. Den­gan kata lain, per­tum­buhan rata-rata, cagr (com­pounded aver­age growth rate) pada peri­ode itu men­ca­pai 12,8%. Vol­ume transaksi meng­gu­nakan kartu kredit juga meningkat dari posisi Desem­ber 2007 sebanyak 129.292.524 kali men­jadi 209.352.197 kali pada Desem­ber 2011 (cagr men­ca­pai 12,8%). Sedan­gkan nilai transaksi meningkat lebih tinggi, yaitu 2x laju pen­ingkatan jum­lah transaksi den­gan cagr men­ca­pai 25,9%, dari Rp 72.6 tril­iun pada Desem­ber 2007 men­jadi Rp 182.6 tril­iun pada Desem­ber 2011. Nilai transaksi yang dilakukan pemegang kartu ter­diri atas dua jenis, yaitu tarik tunai dan belanja. Dari data pada peri­ode itu terny­ata porsi transaksi tarik tunai terus menu­run dari 4,5% pada Desem­ber 2007 men­jadi 2,4% pada Desem­ber 2011.

 Tabel Jum­lah Kartu Kredit Yang Beredar

Posisi per

Des 2007

Des 2008

Des 2009

Des 2010

Des 2011

Jum­lah Kartu

9.148.104

11.548.318

12.259.295

13.574.673

14.785.382

Tabel Transaksi Kartu Kredit (dalam juta rupiah)

Tahun

2007

2008

2009

2010

2011

Tarik Tunai

3.299.610

3.800.977

4.040.297

4.521.434

4.441.568

Belanja

69.304.597

103.468.544

132.651.567

158.687.057

178.160.763

Total

72.604.207

107.269.521

136.691.864

163.208.491

182.602.331

Tarik Tunai

4,5%

3,5%

3,0%

2,8%

2,4%

Belanja

95,5%

96,5%

97,0%

97,2%

97,6%

Sum­ber: Bank Indonesia

Tren Per­i­laku Konsumen

Dari data-data terse­but di atas dapat kita sim­pulkan bahwa peng­gu­naan kartu kredit seba­gai alat pem­ba­yaran semakin hari semakin pop­uler. Keprak­ti­san men­jadi alasan kuat bagi pemegang kartu (card holder). Dari­pada repot harus membawa-bawa uang tunai yang memicu rasa kuatir lebih baik ting­gal gesek dan tan­datan­gan, dan tidak perlu lang­sung mem­ba­yar pada saat transaksi. Transaksi meng­gu­nakan kartu kredit sudah men­jadi gaya hidup. Apalagi bank pener­bit kartu kredit (issu­ing bank/card issuer) terus mem­per­mu­dah kon­sumen den­gan mem­per­luas  jum­lah dan jenis mer­chant atau toko yang dapat melayani pem­ba­yaran den­gan kartu kredit. Selain itu, card holder juga semakin pin­tar. Mereka sadar bahwa bunga yang dike­nakan pada transaksi tarik tunai san­gat besar, sehingga mereka berusaha untuk menghin­dari transaksi tarik tunai. Saat ini banyak card holder memi­liki beber­apa kartu dari beber­apa bank pener­bit. Dan banyak dari mereka yang meman­faatkan sik­lus pen­catatan tang­gal transaksi dan tang­gal penc­etakan tag­i­han setiap kartu kredit yang mereka miliki. Jika transaksi dim­u­lai sehari sete­lah tang­gal penc­etakan tag­i­han sam­pai den­gan 2 minggu sebelum tang­gal penc­etakan tag­i­han sik­lus berikut­nya, dan kemu­dian pada saat tag­i­han terse­but jatuh tempo mem­ba­yar secara penuh selu­ruh jum­lah tag­i­han, maka mereka akan menikmati masa kredit lebih dari sebu­lan tanpa harus mem­ba­yar bunga.

Situ­asi Per­sain­gan Kartu Kredit Saat Ini

Per­sain­gan bis­nis kartu kredit semakin ketat. Ter­catat ada 20 bank di Indone­sia yang mener­bitkan kartu kredit. Saat ini pasar kartu kredit dikua­sai oleh Bank Mandiri, BCA, BNI, Citibank, Bank Mega, CIMB Niaga, HSBC, Bank Dana­mon, Bank Per­mata, dan BRI. Kese­be­las bank itu men­gua­sai sek­i­tar 85% jum­lah kartu kredit yang beredar. Sisanya dipere­butkan oleh kesem­bi­lan bank lain­nya. Setiap bank pener­bit secara agre­sif terus melakukan pro­gram akui­sisi card holder baru, baik den­gan tele­mar­ket­ing yang dilakukan oleh agen pemasaran kartu kredit, pen­jaringan di mall-mall, bundling den­gan produk-produk per­bankan lain­nya, atau kerja sama co-branding den­gan merchant-merchant besar seperti Car­refour, Hyper­mart, perusahaan-perusahaan besar seperti Per­t­a­m­ina atau komunitas-komunitas ter­tentu seperti Ikatan Alumni misalnya.

Bicara ten­tang bis­nis kartu kredit seba­gai alat pem­ba­yaran di dunia global, ada dua nama yang san­gat berperan besar, terutama di Indone­sia, yaitu Visa dan Mas­ter. Kedua perusa­haan itu­lah yang memu­ngkinkan kita dapat bertransaksi den­gan kartu kredit ketika berada di luar negeri. Demikian juga ketika kita berbe­lanja on-line dari situs belanja yang berada di luar negeri. Visa dan Mas­ter meru­pakan gate­way bagi sia­papun yang bertransaksi den­gan kartu kredit. Mer­chant di luar negeri tidak peduli siapa bank pener­bit kartu kredit, sep­a­n­jang pada kartu kredit itu ada logo Visa atau Mas­ter transaksi dapat dilakukan. Semua bank pener­bit kartu kredit di Indone­sia meru­pakan cus­tomer dari Visa atau Mas­ter. Atas jasa Visa/Master bank pener­bit mem­ba­yar fee 2–3% dari setiap nilai transaksi. Selan­jut­nya bank pener­bit akan men­ge­nakan fee kepada mer­chant dimana kartu kredit itu digu­nakan, yang besarnya juga sek­i­tar 3% dari setiap nilai transaksi. Mer­chant rela men­gu­rangi mar­gin keun­tun­gan sek­i­tar 3% untuk diba­yarkan ke bank pener­bit karena kemu­da­han yang dida­pat pem­beli akan meningkatkan pelu­ang ter­jadinya transaksi. Bagaimana jika mar­gin keun­tun­gan mer­chant san­gat tipis, bahkan hanya sek­i­tar 3%, seperti SPBU Per­t­a­m­ina? Itu­lah situ­asi yang selama ini dialami card holder di SPBU Per­t­a­m­ina, yang ter­paksa mem­ba­yar sur­charge sebe­sar 3% dari nilai transaksi jika mem­ba­yar den­gan kartu kredit. Namun, atas nama meman­jakan card holder dan menyikapi ketat­nya per­sain­gan, saat ini di seba­gian SPBU Per­t­a­m­ina card holder sudah bisa mem­ba­yar pem­be­lian BBM meng­gu­nakan kartu kredit berl­ogo Visa tanpa dike­nakan sur­charge, karena fee yang harus diba­yar SPBU Per­t­a­m­ina kepada bank pener­bit diam­bil alih oleh Visa.

Surat Edaran Bank Indone­sia No. 12/17/DASP tang­gal 7 Juni 2012 per­i­hal peruba­han atas Surat Edaran Bank Indone­sia No. 11/10/DASP per­i­hal Penye­leng­garaan Kegiatan Alat Pem­ba­yaran den­gan Meng­gu­nakan Kartu meru­pakan atu­ran pelak­sana atas berlakunya Per­at­u­ran Bank Indone­sia Nomor 14/2/PBI/2012. Per­at­u­ran terse­but antara lain mem­bat­asi jum­lah bank penebit yang boleh mem­berikan kartu kredit pada sese­o­rang yang memi­liki peng­hasi­lan per bulan antara Rp 3–10 juta mak­si­mal 2 bank pener­bit. Bank tidak boleh mem­berikan kartu kredit kepada sese­o­rang yang peng­hasi­lan per bulan­nya kurang dari Rp 3 juta. Keten­tuan jum­lah kartu kredit yang dim­i­liki sese­o­rang tidak berlaku untuk mereka yang peng­hasi­lan per bulan­nya di atas Rp 10 juta. Adanya keten­tuan terse­but pasti akan menyusutkan jum­lah kartu kredit yang beredar, karena card holder yang ter­ma­suk dalam keten­tuan pem­bat­asan itu ter­paksa akan melepas kartu ketiga dan seterus­nya. Seba­gian besar card holder peng­hasi­lan per bulan­nya antara Rp 3–10 juta. Ketika card holder harus memilih kartu kredit mana yang akan mereka per­ta­hankan maka mereka pasti akan mem­per­ta­hankan kartu yang pal­ing lama atau yang pal­ing ser­ing dipakai, pal­ing banyak pro­gram pro­mosinya dan yang pal­ing memuaskan­nya. Den­gan kata lain kartu kredit yang akan diper­ta­hankan adalah kartu yang men­da­pat tem­pat di piki­ran (mind share), di hati (heart share), dan pal­ing ser­ing digu­nakan (mar­ket share) card holder. Den­gan kata lain per­sain­gan sesung­guh­nya adalah bagaimana men­gua­sai mind share, heart share, dan mar­ket share melalui pen­guasaan wal­let share, karena kecen­derun­gan card holder memi­liki lebih dari satu jenis kartu kredit tidak ter­hin­darkan. Men­jadi nomor 1 atau 2, tidak ada tem­pat bagi nomor 3 dan seterusnya.

Sebe­narnya sebelum Per­at­u­ran Bank Indone­sia di atas berlaku, wacana ten­tang pem­bat­asan jum­lah kartu kredit sudah muncul beber­apa tahun yang lalu. Dan beber­apa bank pener­bit sudah banyak melakukan langkah-langkah anti­si­pasi mem­perkuat brand value kartu kred­it­nya dan pro­gram mem­per­ta­hankan card holder (reten­tion). Titik kri­tikal retensi adalah pada saat per­pan­jan­gan masa berlaku kartu karena terkait den­gan iuran tahu­nan. Hal yang umum dilakukan bank pener­bit adalah den­gan men­gunci langkah card holder secara halus den­gan jer­atan pro­gram seperti Kredit Tanpa Agu­nan (KTA), kredit kon­sumsi den­gan iming-iming bunga nol persen. Ketika masa berlaku kartu harus diper­pan­jang dan saat itu masa pelu­nasan kredit masih ber­jalan, maka tidak ada pil­i­han bagi card holder untuk berhenti memegang kartu kredit terse­but, kecuali mau melu­nasi sisa kredit secara lang­sung dan berse­dia mem­ba­yar den­danya yang jum­lah keselu­ruhan­nya kadang malah lebih besar dari­pada besarnya iuran tahu­nan. Namun, seba­gian bank pener­bit sudah den­gan tegas mem­be­baskan iuran tahu­nan, bahkan berlaku seu­mur hidup. Seba­gian mem­berikan pem­be­basan iuran tahu­nan den­gan sejum­lah syarat, mis­al­nya mendaf­tarkan tag­i­han bulanan seperti tele­pon, listrik, atau komit­men pem­be­lan­jaan dalam kurun waktu ter­tentu harus men­ca­pai jum­lah ter­tentu atau komit­men frekuensi transaksi dalam kurun waktu ter­tentu tanpa ada keharu­san jum­lah nilai transaksi, trans­fer bal­ance atau memindahkan tag­i­han kartu kredit dari bank pener­bit yang lain, dan lain seba­gainya. Intinya, iuran tahu­nan bukan sesu­atu yang kaku harus diba­yar oleh card holder. Dari sudut pan­dang card holder pen­ge­naan iuran tahu­nan terasa men­jadi tidak adil jika meli­hat bahwa bank pener­bit mem­berikan pem­be­basan iuran tahu­nan kepada card holder baru yang belum ter­bukti kred­i­bil­i­tas­nya, semen­tara kepada card holder yang sudah bertahun-tahun men­jadi pelang­gan dan sudah mem­berikan profit kepada bank pener­bit serta sudah teruji kred­i­bil­i­tas­nya tetap diharuskan mem­ba­yar iuran tahu­nan. Sesung­guh­nya keber­adaan card holder dalam daf­tar pemegang kartu kredit bank pener­bit masih belum banyak berman­faat sam­pai card holder itu melakukan transaksi. Maka, sete­lah mampu mena­han card holder dalam daf­tar pelang­gan tan­ta­n­gan bank pener­bit adalah bagaimana men­dorong card holder seser­ing mungkin meng­gu­nakan kartu kredit dari bank terse­but diband­ingkan kartu dari bank pesaing. Pertem­pu­ran yang sesung­guh­nya adalah pada perebu­tan wal­let share para card holder. Jadi, masih per­lukah iuran tahu­nan itu?